KOREKSI #2 - Strategi Pemasaran Lembaga Pendidikan Swasta di Masa Pandemik

Tentang KOREKSI

KOREKSI merupakan akronim dari Kita Ngobrol Edukasi yang diinisiasi oleh Jaringan IDN. Jadi bukan hanya InfraDigital Nusantara saja yang terlibat, namun webinar ini terinspirasi dari lembaga pendidikan yang sudah bergabung di Jaringan IDN. Nah, Jaringan IDN itu apa? Jaringan IDN adalah platform yang menjembatani dunia pendidikan dengan dunia pembayaran yang diinisiasi oleh PT Infradigital Nusantara (IDN). PT Infradigital Nusantara (Jaringan IDN) sendiri merupakan fintech yang terdaftar di Bank Indonesia yang fokus membantu lembaga pendidikan melakukan digitalisasi dalam keuangan, pembayaran, dan operasional. Selengkapnya di www.infradigital.io atau bisa bapak/ibu hubungi admin pada saat bapak/ibu mendaftar kalau mau tau lebih lanjut dan lembaga pendidikannya ingin bergabung dengan kami.

 

Profil Narasumber

Wayah Surya Wiroto, Phd merupakan direktur pemasaran BINUS tahun 2002 – 2007, General Electric (GE) tahun 2014 – 2018 dan Direktur Akademi Komunitas Multistrada.

 

Resume

1.PNG

2.PNG

Jika diasumsikan baru mulai bulan-bulan ini maka PPDB terhitung sangat singkat? dengan waktu yang sempit seperti ini, seberapa besar kontribusi biaya pendaftaran dan SPP terhadap total pendapatan sekolah? Jika ini lebih dari 50% maka lembaga pendidikan  sangat bergantung dengan jumlah siswa.

3.PNG

4.PNG

Kalau institusi pendidikan masih bergantung sangat besar berarti tidak boleh kehilangan kesempatan tersebut, seperti pembukaan kelas yang biasanya 3-4 kelas tapi masa Covid19 jadi hanya 2 kelas, ini tidak boleh terjadi karena akan kehilangan pendapatan jangka pendek dan jangka panjang. Kehilangan ini akan bersifat panjang dan mempengaruhi cashflow di jangka panjang. Lembaga pendidikan harus bisa memiliki sebuah konsep yang menjamin ketersediaan peserta didik baru sesuai dengan target peserta didik baru agar masalah keuangan jangka panjang tidak terjadi kecuali lembaga pendidikan memiliki sumber lain selain siswa.

Tujuan pemasaran agar jumlah pendaftar lebih banyak daripada kuota yang disediakan. Nah, jika sudah seperti ini tidak perlu lagi pemasaran tapi bukan berarti pemasaran itu tidak ada, pemasaran yang mereka lakukan ada dari sisi metode belajar jadi pemasaran mulut ke mulut terjadi secara organik, dan reputasi yang baik. Ini namanya word of mouth marketing strategy, terlihat mudah tapi ini sulit dilaksanakan, kuncinya kepuasan pelanggan. Saat pelanggan puas mereka akan ngobrol sendiri.

5.PNG

Hal yang pertama yang perlu dilakukan mulai dari buka akses informasi yang seluas-luasnya untuk meningkatkan awareness. Awareness disini adalah untuk mengkomunikasikan kelebihan lembaga pendidikan. Persaingan di swasta ini ketat, perlu ada pancingannya. Orang lebih percaya teman atau word of mouth dibandingkan promo yang kita berikan, mau ada diskon apapun, kalau ada omongan lembaga pendidikan buruk, ini akan susah. Jadi sebelum berikan promo-promo, lihat pelanggan saat ini untuk meningkatkan kepuasan pelanggan terlebih dahulu.

Kita harus tahu apa yang diinginkan pelanggan saat masuk/gabung dengan sekolah kita, apakah berkaitan dengan keagamaan, metode belajar, guru yang baik, atau bagaimana. Buat kesan ke orangtua/anak-anak setelah belajar, "wah kok puas ya", seperti "anak saya sampai tidak mau diajak liburan". Mereka sangat attach dengan sekolahnya. Mereka senang dengan lingkungannya dan sebagainya. Ini jadi faktor penting sebelum memulai pemasaran.

Setelah awareness nya sudah dapat, informasinya mudah ditemui (adakan website, media sosial, referensi orangtua, dan lain-lain). Jika reputasinya baik, maka bisa sampai ke inquiry (mencari/menyelidiki). Si pelanggan mulai tertarik dan cari tau lebih dalam tentang lembaga pendidikan kita. Nah, kita coba lihat akses informasi ini bisa buat inquiry pelanggan kita tertarik atau tidak, misalnya website. Website kita harus informatif, desainnya menarik, dan bisa menawarkan apa yang pelanggan yang inginkan.

Selanjutnya, pelanggan akan visit & info session. Saat ini visitasi sulit dilakukan maka mungkin mereka call. Nah, terkadang banyak lembaga pendidikan tidak berinvestasi dengan customer service (telemarketing), tidak terlatih seperti bank, kalau kita telfon kan enak dan jelas. Tapi kalau lembaga pendidikan hanya menyerahkan kontak ke orang siapa saja, ini bisa jadi menyebabkan informasinya tidak sampai, tidak responsif, bahkan malah membuat pelanggan jadi kecewa dan kesal karena komunikasi yang tidak baik.

Orang tua itu butuh security saat memilih sekolah. Jadi, selain memberikan pelayanan akademik yang bagus perlu ada penekanan kenyamanan dan keamanan lembaga pendidikan. Jadi lembaga pendidikan harus investasi ke telemarketing/customer service serahkan kontak ke orang yg sudah terlatih dan juga keamanan serta kenyamanan lembaga pendidikan. Sales yang bisa menyampaikan dengan baik, sopan, menarik, dan sangat memahami lembaga pendidikan kita, serta bisa memilah informasi yang sesuai dengan yang dicari pelanggan.

Lanjut ke Apply. Mulai dari sederhanakan proses admisi, tidak perlu dokumen pendaftaran yang banyak dan repot. Semakin mudah, semakin lancar, semakin banyak informasi yg didapatkan tanpa harus mendaftar, maka semakin besar orang tua daftar ke lembaga pendidikan. Waktu pendaftaran juga perlu diperhatikan dan disesuaikan dengan target lembaga pendidikan.

6.PNG

Perlu adanya dukungan dari semuanya, bukan hanya tim pemasaran. Semua terjun, tapi bukan berarti dengan bantu jualan dengan "eh masuk ini ya masuk ini ya", tapi dengan cara memanfaatkan peran mereka masing-masing, meningkatkan kepuasan pelanggan, baik guru, satpam.

7.PNG

Analisa Situasi

Seberapa besar kedekatan bapak/ibu dengan wali murid, komite wali murid? Jadi, ketika diminta bantuan dengan senang hati orangtua/perkumpulan wali murid ini bantu. Ini perlu ada kedekatan dulu dan kenal. Kalau bapak/ibu dekat dan kenal, tahu siapa wali murid yang bisa bantu dan tepat maka akan muncul multiple effect. Para wali murid ini akan menyebarkan ke komunitasnya, Whatsapp grup, atau perkumpulan lainnya. Bayangkan jaringan ini dikalikan ke ratusan orang dari wali murid kita yg sudah ada

Jadi bukan keren-kerenan metode pemasaran dan iklan tapi lebih ke sesuatu strategi yang tepat dan efisien. Strategi yang terukur dan efisien, pemilihan media pemasaran, Social Media, Word of Mouth, Online Marketing ini wajib dan minimal harus ada, sedangkan advertisement, event, dan banner karena Covid19 ini jadi kurang signifikan.

8.PNG

Saat ini (masa pandemi), Word of Mouthnya pergunakan media sosial, bisa facebook dan Whatsapp, bahkan TikTok. Kalau pake TikTok kan isinya anak-anak dansa-dansa? Apakah cocok untuk kita? Nah, sekarang TikTok sudah bisa untuk pemasaran promo yang gratis asalkan video dan konten kita bagus. Bawalah anak didik bapak/ibu ke proses ini, bukan berarti jualan tapi bawa pesan yang lain. Misalnya di Instagram-nya sharing kegiatan sekolah, menginformasikan keunggulan lembaga pendidikan kita secara tidak langsung.

Ketahuilah SWOT dari pemasaran kita, habiskan waktu untuk mikirin ini sebagai strategi. Jadi, bisa menganalisis mana metode yang paling tepat dan tidak membuang anggaran ke hal-hal yg tidak kita perlukan, serta cost benefit biaya pemasaran juga harus jelas.

Kita tidak perlu iklan jika tidak jelas siapa target yg kita tuju. kita harus setup lebih awal, create awareness sedini mungkin. Kita tidak perlu tunggu tahun depan. Tapi awareness apa yang dibangun sebelum PPDB? Yaitu awareness pelayanan kita, reputasi kita, dan keunggulan kita.

9.PNG10.PNG

 

Tentang Jaringan IDN

Jaringan IDN adalah startup yang menjembatani lembaga pendidikan dengan channel pembayaran. Kita membantu lembaga pendidikan mengelola tagihan, laporan keuangan, PPDB / PMB dan lainnya secara digital. Orang tua/wali murid dan mahasiswa dapat membayar tagihan di berbagai channel Jaringan IDN, seperti Indomaret, Alfamart, Gojek, Tokopedia, BRI, BCA, BNI/BNI Syariah, Mandiri, Danamon, dan lainnya. Saat ini telah ada lebih dari 350 lembaga pendidikan yang bergabung di Jaringan IDN. Jika lembaga pendidikan Anda belum bergabung dapat klik Gabung Jaringan IDN.