KOREKSI #1 - Dampak Covid-19 dan Bagaimana Lembaga Pendidikan Meresponnya?

Tentang KOREKSI

KOREKSI merupakan akronim dari Kita Ngobrol Edukasi yang diinisiasi oleh Jaringan IDN. Jadi bukan hanya InfraDigital Nusantara saja yang terlibat, namun webinar ini terinspirasi dari lembaga pendidikan yang sudah bergabung di Jaringan IDN. Nah, Jaringan IDN itu apa? Jaringan IDN adalah platform yang menjembatani dunia pendidikan dengan dunia pembayaran yang diinisiasi oleh PT Infradigital Nusantara (IDN). PT Infradigital Nusantara (Jaringan IDN) sendiri merupakan fintech yang terdaftar di Bank Indonesia yang fokus membantu lembaga pendidikan melakukan digitalisasi dalam keuangan, pembayaran, dan operasional. Selengkapnya di www.infradigital.io atau bisa bapak/ibu hubungi admin pada saat bapak/ibu mendaftar kalau mau tau lebih lanjut dan lembaga pendidikannya ingin bergabung dengan kami.

 

Profil Narasumber

  • Prof. Asep Saefudin : saat ini beliau rektor di Univ Al Azhar Indonesia, sebelumnya Rektor Universitas Trilogi dan ketua Forum Rektor Indonesia. Saat ini juga beliau pembina Forum Rektor Indonesia, dan beberapa yayasan sekolah, seperi Sekolah Bina Bangsa Sejahtera di Bogor, Sekolah Tarbiyatul Muslimin, dan lain-lain. Beliau merintis dari kepala sekolah, kepala yayasan sampai jadi rektor dan pembina forum rektor saat ini.
  • Fithra Faisal, PhD : Pastinya sering lihat di TV kan ? beliau sering berbicara tentang ekonomi di Indonesia, khususnya baru-baru ini tentang dampak Covid-19 terhadap perkonomian Indonesia, baru kemarin juga beliau concall dg Ibu Sri Mulyani, Menkeu kita. Saat ini dosen dan pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia.

 

Resume

(Fithra Faisal, PhD)

Covid-19 udah muncul sejak November tahun  2019 lalu tapi hanya WHO yang berhak mengklaim suatu kondisi sebagai pandemi global. Indonesia menjadi negara yang unik di Asia Tenggara karena pengaruh ekonomi dan kondisi di China tidak begitu besar di Indonesia jika dibandingkan dengan Thailand, Vietnam, dan negara lainnya.

Yang menjadi permasalah dalam perekonomian adalah bukan PSBB atau tidak, tapi bagaimana resolusinya jelas dan bagaimana agar ini bisa berlalu lebih cepat. Dalam kondisi buruk kita bisa tumbuh - 0,54% dan masih punya skala positif sampai 1,21% namun tentunya jika lebih dari bulan Juni ini akan terus menurun menjadi negatif. Pertumbuhan angka pengangguran bisa mencapai 17 juta orang. Ini bisa mengakibatkan double digit angka pengangguran kita di atas 10%, tumbuh dari 5% sebelum masa Covid-19.

Masa krisis ini berbeda, hampir semua sektor berdampak. Tahun 1998 tidak semuanya. Tapi ada keunikan, di tahun 1998 kita -13%, namun kondisi kritis yang lebih parah ini kita diprediksikan terburuk di angka -3%

01:07:34 Infradigital Nusantara: "Ini bisa membuat kita lebih sedikit bertepuk dada, namun kalau kt lihat sektor pariwisata dan pengangkutan yang paling sangat berdampak juga Jasa pendidikan swasta."

Penanganan wabah, seperti karantina wilayah, PSBB, dan lockdown bukan hal yang baru. Sudah ada referensi dan pengalamannya. Mulai dari pengalaman wabah Spanish Flu. Saat terjadi Spanish Flu, disana diterapkan PSBB atau karantina wilayah yang berbeda-beda tiap daerah.

Kita semua menderita, semua kelas kena, baik yang miskin, menengah maupun atas. Ada expiring middle-class, orang yang dari menengah bawah akan naik ke kelas menengah atau dari menengah ke menengah atas namun terhambat karena krisis ini atau bahkan turun kembali. Belum lagi adanya Permanent Impact Loss of Human Capital, hilangnya modal/penghasilan secara permanen.

Ini karena data cohort Kemenkes menunjukkan di Indonesia mayoritas Covid-19 terjadi pada usia produktif bukan usia lanjut. Kita bisa hilang kekayaan selama krisis ini sebesar PDB kita 1 tahun, 14000 Triliun Rupiah. Namun Economy Can Recover, We Cant Recover Dead Bodies, Ekonomi bisa pulih, pertumbuhan bisa diakselarasi tapi orang meninggal tidak bisa kembali.

Paket Stimulus dari Pemerintah 405 Triliun, mayoritas untuk kesehatan dan sosial. Namun ini masih sedikit porsinya untuk kelompok menengah ke bawah. Kelompok menengah ke bawah ini butuh makan, kita asumsikan per orang butuh 1,4 jt per bulan untuk 105 juta yang menengah ke bawah maka dapat kita asumsikan pemerintah per bulannya butuh 115 triliun. Ini hanya untuk makan kelas menengah ke bawah. Bagaimana dengan UMKM dan pengusaha? Bagaimana dengan lembaga pendidikan swasta?

Secara infrastruktur (berdasarkan pengalaman narasumber di UI) kita tidak ada masalah. Kita malah mengalami penghematan operasional namun bagi mahasiswa ini berdampak minimal ketika mereka pulang ke rumah mereka butuh akses internet, dan butuh biaya untuk beli paket data. Belum lagi akses di daerah belum tentu stabil. Buat kalangan siswa, yang tidak punya akses internet, yaudah jadi bermain atau membantu orangtuanya.

Yang sangat mengkhawatirkan yaitu pada jasa pendidikan menengah ke bawah. Mereka sulit untuk bayar pendidik karena mereka tidak mempunyai dana untuk bayar. Tapi ini sudah terjadi, bagaimana resolusinya? kita harus adaptif! 

(Prof. Asep Saefudin)

Kita dituntut untuk melihat "next practice" artinya kita belum punya bagaimana caranya, kalau best practice sudah punya cara yang terbaik, kalau next practice ya kreativitas. Ini tidak mudah, tapi semoga selalu ada hikmah, dibalik mudharat ada manfaat. Kita ubah paradigma kita. Jangan lagi hanya mengeluh. Kita harus pikirkan jangka pendek dan jangka menengah. Contohnya pemerintah sedang membuat insentif untuk biaya hidup kelas menengah ke bawah sampai akhir tahun.

Pengalaman kita di Universitas Al Azhar Indonesia, betul memang hasil kajian LLDIKTI III di Jakarta, itu 80% PTS kecil, dimana mahasiswanya di bawah 2000, kalau mereka punya main income-nya dari mahasiswa tentunya ini sangat berat. Orangtua (mahasiswa ini) sudah gabisa mem-backup sehingga efeknya jadi tidak mampu membayar (menunggak tagihan). Kalau lembaga swasta kemungkinan sulit untuk bayar gaji karyawan, karena mayoritas pemasukan dari pembayaran tagihan. Ada beberapa kampus yang stabil karena mahasiswanya banyak tapi bagi lembaga swasta yang di bawah 15 ribu siswa/mahasiswa ini akan goyah.

Namun betul kata Pak Fithra, kita harus menyelamatkan SDM. Mulai dari mempertahankan kegiatan belajar mengajar, kita study from home. Masalahnya ini kan mahasiswa jadi harus bayar pulsa jadi kampus sedang memikirkan pulsa mahasiswa. Di kita subsidi 100 ribu pulsa untuk mahasiswa kita per bulan. Intinya kita harus menyelamatkan kegiatan belajar mengajar dan mahasiswa.

Secara individu kita harus meningkatkan awareness dan kreativitas. Kita memberikan ruang untuk mahasiswa/siswa untuk berkreasi dan bekerjasama. Adapun skill, seperti memanfaatkan dan memahami teknologi, itu sebuah keharusan. Namun bagaimana di desa? memang harus mulai dari adakan wifi, lalu pelajari sistem digital learning. Skill lain yang juga penting, seperti critical thinking, skeptis positif, kreativitas, dan analytical thinking.

(Kompetensi di atas bisa bantu kita menghadapi Covid-19 untuk mencari solusi yang tepat bagi masing-masing lembaga pendidikan kita.)

 

 

Profil Jaringan IDN

Jaringan IDN adalah startup yang menjembatani lembaga pendidikan dengan channel pembayaran. Kita membantu lembaga pendidikan mengelola tagihan, laporan keuangan, PPDB/PMB dan lainnya secara digital. Orang tua/wali murid dan mahasiswa dapat membayar tagihan di berbagai channel Jaringan IDN, seperti Indomaret, Alfamart, Gojek, Tokopedia, BRI, BCA, BNI/BNI Syariah, Mandiri, Danamon, dan lainnya. Saat ini telah ada lebih dari 350 lembaga pendidikan yang bergabung di Jaringan IDN. Jika lembaga pendidikan Anda belum bergabung dapat klik Gabung Jaringan IDN.