Cerita Sekolah Jaringan IDN: SD Anugerah Surabaya

Di Balik Berkah Digitalisasi Sekolah dengan Pembayaran SPP Online

SD Anugrah Surabaya: Di Balik Berkah Digitalisasi Pembayaran Sekolah

Anugrah-foto---2.png

Berkah terkadang datang lewat sesuatu yang tak terduga. Salah satunya, SD Anugrah Surabaya yang mendapatkan berkah melalui digitalisasi pembayaran sekolah dengan Jaringan IDN. Semangat untuk terus maju dan berkembang, walaupun perjalanan sejak awal memang tidak mudah, telah mengantarkan SD Anugrah Surabaya untuk selalu menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Siapa sangka penerapan digitalisasi pembayaran sekolah yang awalnya dipandang sebelah mata oleh banyak pihak, malah menjadi suatu lampu penerang di kala kesulitan yang melanda di masa pandemi Covid-19.

Perjalanan Sebelum Digitalisasi Pembayaran Sekolah 

Langkah kaki memasuki tempat yang tak asing namun terasa semakin sunyi. Tepat di tahun 2017, SD Anugrah Surabaya mungkin mengalami titik terberatnya. Saat itu siswa dan tenaga pendidik seperti berlomba-lomba untuk pergi dari tempat tak asing yang seharusnya mereka hadiri. Masalah demi masalah seakan menggerogoti tak ada habisnya, padahal baru setahun yang lalu semuanya berjalan baik-baik saja. “Saya mau cari siswa 1 orang saja seperti orang ngemis”, ujar Ahmad Syafiul Umam selaku Kepala SD Anugrah Surabaya menggambarkan situasi pada saat itu.

Anugrah-foto---7.png

Di tahun yang dikatakan mengerikan itu, sekolah ini bahkan sempat tidak memiliki siswa. Padahal sekolah dan siswa merupakan satu kesatuan yang seharusnya tak terpisahkan. Pengelolaan manajemen yang buruk hingga lingkungan sekolah yang tidak terawat bahkan diibaratkan seperti ‘kandang ayam’, membuat para wali siswa enggan untuk memasukan anaknya ke sekolah tersebut pada waktu itu. Terlebih, jika situasi semakin memburuk, spanduk ‘dijual’ sudah siap untuk di pasang tinggi-tinggi di depan sekolah.

Titik Awal Dimulainya Digitalisasi Pembayaran Sekolah

Namun nyatanya takdir berkata lain, olok-olok yang diberikan orang-orang masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri. Belajar dari kesalahan sebelumnya, langkah-langkah pasti mulai direncanakan untuk menghidupkan sekolah kembali. Caci maki diubah menjadi motivasi yang pada akhirnya membuahkan hasil. Sekolah yang berdiri sejak tahun 1988 itu perlahan bangun kembali dari mimpi buruknya. Semuanya mulai dibenahi lagi dari awal hingga mulai mendapatkan kepercayaan masyarakat kembali.

Anugrah-foto---4.png

Waktu pun berlalu hingga sampai di tahun 2019, sadar akan globalisasi dan arus digitalisasi yang mulai dirasa semakin kuat mempengaruhi, SD Anugrah Surabaya memberanikan diri untuk memulai digitalisasi pembayaran dengan menjadi bagian Sekolah Jaringan IDN.

Saya memikirkan untuk 5 sampai 10 tahun ke depan, efek jangka panjang kedepannya. Digitalisasi itu sangat penting dan tidak bisa dikesampingkan. Jadi progress-nya sekolah kami harus transaksi apapun dilakukan secara online dan itu akan berimbas bukan hanya tahun depan saja tapi bisa bermanfaat sampai 10 tahun yang akan datang. Jadi kami selangkah lebih maju dibandingkan sekolah lain”, jelas Ahmad Syafiul Umam di balik alasannya melakukan digitalisasi.

Niat baik terkadang tidak selalu disambut dengan baik. Ejekan mulai terdengar lagi seperti membuka luka lama yang hampir sembuh. “Sekolah belum maju saja mau menggunakan online”, begitu kira-kira tanggapan orang lain. Tidak sampai disitu saja, sekolah mulai dihadapi kesulitan karena banyaknya wali siswa yang tidak mengerti melakukan pembayaran biaya pendidikan secara online. 

Namun, kesulitan yang menghadang tersebut tak lantas membuat sekolah ini patah semangat. Sekolah memberikan pengertian kepada wali siswa dan meyakinkan mereka bahwa digitalisasi ini dilakukan semata-mata untuk mempermudah wali siswa. Seiring dengan berjalannya waktu, wali siswa menjadi lebih paham dan lebih terbuka dengan digitalisasi pembayaran yang dilakukan sekolah. Sekolah bersama dengan wali siswa pun saling bergandengan tangan untuk maju bersama-sama.

Digitalisasi Pembayaran Sekolah Membawa Berkah